mari belajar bersama jadi jika ada kesalahan dalam blog ini tolong dikoreksi yahh...jangan diejek lho....^_^

Rabu, 03 Februari 2010

permasalahan penelitian

Setiap pelaksanaan penelitian selalu bertitik tolak dari adanya masalah yang dihadapi dan perlu dipecahkan. Atau pada dasarnya penelitian dilakukan dengan tujuan untuk mendapatkan data yang antara lain dapat digunakan untuk memecahkan masalah. Dalam bidang pendidikan sebagaimana bidang-bidang lain. Dalam prosedur penelitian tahap awal yang harus dikaji adalah permasalahan penelitian yang meliput 3 langkah penelitian, yaitu:

1. Memilih Masalah

Masalah dapat diartikan sebagai penyimpangan antara yang seharusnya dengan apa yang benar-benar terjadi, antara teori dengan praktek, antara aturan dengan pelaksanaan, antara rencana dnegan pelaksanaan.

Jadi masalah dapat diketahui atau dicari apabila terdapat penyimpangan antara pengalaman dengan kenyataan, antara apa yang direncanakan dengan kenyataan, adanya pengaduan dan kompetisi. Memilih masalah bukanlah pekerjaan yang terlalu mudah terutama bagi orang-orang yang belum banyak berpengalaman meneliti. Untuk itu dibutuhkan banyak latihan dan kepekaan ilmiah dari calon peneliti. Apabila sudah berpengalaman meneliti, masalah-masalah ini akan timbul dalam bentuk keinginana untuk segera dilaksanakan pemenuhannya. Kepekaan seseorang menemukan masalah banyak tergantung pada apakah orang itu mempunyai keahlian, pengetahuan ataupun minat khusus pada bidang tertentu atau tidak.

Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi seseorang menjadi peka masalah,adalah sbb:

a. Spesialisasi atau keahlian khusus pada suatu bidang

b. Program pendidikan ayng sudah ditempuh

c. Banyak bahan bacaan (kepustakaan yang sudah dikuasai)

d. Usaha menekuni sesuatu

e. Memperhatikan berbagai kebutuhan dan praktek kehidupan sehari-hari.

Memilih masalah yang betul-betul masalah bukanlah pekerjaan yang mudah seperti telah disebutkan sebelumnya, bila masalah penelitian telah ditemukan maka pekerjaan penelitian telah 50% selesai

Sehubungan dengan kegiatan penelitian, perlu dipahami bahwa tidak terhadap semua masalah layak dilakukan penelitian. Criteria masalah yang layak dijadikan pokok penelitian adalah:

a. Masalah baru yang actual

b. Bernilai praktis

c. Masalah yang berada dalam batas kemampuan untuk menelitinya

d. Tidak mengundang kekuatan social politik apabila diteliti, dan

e. Ada sponsor atau untuk kepentingan suatu karya ilmiah harus ada pembimbing penelitian terhadap masalah tersebut.

Melalui teori dan pengalaman-pengalaman serta literature dan berbagai sumber, permasalahan yang dijumpai begitu banyak, sehingga sulit untuk memilih, untuk itu peneliti hendaknya mempertimbangkan beberapa faktor, sbb:

a. Topic harus benar-benar menarik bagi peneliti sendiri

b. Topic cukup mempunyai signifikansi

c. Topic yang dapat mengganggu persatuan dan ketentraman masyarakat luas, perlu dihindari

d. Topic hendaklah masih dalam jangkauan kemampuan dan keterampilan peneliti

e. Tersedia cukup data yang diperlukan untuk dianalisis

f. Tersedia biaya, waktu, dan alat yang cukup

Adapun panduan pokok dibawah ini akan mempermudah bagi kita memilih masalah:

a. Masalah sebaiknya merumuskan setidak-tidaknya hubungan antara dia variable atau lebih

b. Masalah harus dinyatakan secara jelas dan tidak bermakna ganda dan pada umumnya diformulasikan dalam bentuk kalimat Tanya

c. Masalah harus dapat diuji dengan menggunakan metode empiris, yaitu dimungkinkan adanya pengumpulan data yang akan digunakan sebagai bahan untuk menjawab masalah yang sedang dikaji

d. Masalah tidak boleh mempresentasikan masalah posisi, moral dan etika

2. Studi Pendahuluan

Dasar pembuatan kesimpulan dalam suatu penelitian adalah hipotesis, yang merupakan kesimpulan. Atau jawaban sementara tentang masalah penelitian, yang harus diuji kebenarannya. Merumuskan hipotesis selalu membutuhkan sejumlah informasi, agar tidak hanya sekedar dugaan yang berdasarkan ide semata-mata. Untuk memperoleh sejumlah informasi yang diperlukan dalam rumusan hipotesis perlu diadakan studi pendahuluan (premilinary study).

Jadi walaupun sudah diperoleh suatu masalah untuk diteliti, sebelum mengadakan penelitian yang sesungguhnya. Peneliti mengadakan suatu study pendahuluan yaitu menjajagi kemungkinan diteruskannya pekerjaan meneliti. Seperti telah disebutkan sebelumnya, studi pendahuluan dimaksudkan untuk mencari informasi yang diperlukan oleh peneliti agar masalah menjadi lebih jelas kedudukannya.

Sumber informasi berbeda-beda menurut tujuan dan jenis serta masalahnya. Secara garis besar sumber informasi dapat digolongkan kedalam 3 kategori utama, yakni:

a. Sumber informasi dokumenter yang digolongkan kedalam: sumber primer (primary sources) dan sumber sekunder (secondary sources)

b. Sumber informasi kepustakaan (bibliografis), manfaatnya adalah: (1) bahan kepustakaan dapat mengarahkan peneliti dalam menciptakan pemahaman dan perumusan masalah yang tepat, (2) dengan bahan kepustakaan yang baik, dapat ditentukan dengan teknik penelitian yang tepat sehingga diharapkan hasil penelitian dapat valid dan signifikan, (3) dapat membantu peneliti dalam menjuruskan pemikiran konseptual maupun dalam menguji ketetapan asumsi atau postulat yang dirumuskan, dan (4) dapat membantu menghidari pelaksanaan peneliti yang kemungkinan tidak mencapai hasil.

Berbagai jenis bahan kepustakaan yang dapat dipergunakan dalam menunjang latar belakang teoritis penelitian, meiputi:

1) Buku yang diterbitkan

2) Berbagai jenis berkala (majalah, bulletin dan brosur)

3) Surat kabar atau harian lainnya

4) Karangan yang tidak diterbitkan (paper, skripsi, tesis dan disertasi)

c. Sumber informasi lapangan (field sources of information), meliputi: (1) sumber pribadi, (2) lembaga pendidikan baik formal maupun nonformal dalam segala tingkatan, (3) lembaga social, (4) kantor-kantor, baik pemerintah maupun swasta, dan (5) proses sesuatu dan barbagai gejala.

Adapun beberapa manfaat studi pendahuluan (pralapangan):

a. Mengetahui dengan pasti apa yang akan diteliti

b. Tahu dimana dan kepada siapa data atau informasi dapat diperoleh

c. Tahu bagaimana cara memperoleh informasi yang diperlukan

d. Tahu bagaimana cara menganalisa data yang telah diperoleh

e. Tahu bagaimana harus mengambil kesimpulan serta memanfaatkan hasil menarik kesimpulan dari informasi yang diperoleh.

3. Merumuskan Masalah

Apabila telah diperoleh informasi yang cukup dari studi pendahuluan, maka masalah yang akan diteliti menjadi jelas. Setelah masalah diidentifikasi/dipilih maka peneliti harus merumuskan masalahnya secara jelas dan operasional tentang ruang lingkup dan batasan-batasan masalahnya, sehingga jelas darimana harus mulai , kemana harus pergi, dan dengan apa. Atau perumusan masalah ini dapat member arah pada keseluruhan rencana dan langkah-langkah yang ditempuh.

Salah satu cara untuk membuat perumusan masalah yang baik ialah dengan melakukan proses penyempitan masalah dari yang sangat umum menjadi lebih khusus dan pada akhirnya menjadi masalah yang spesifik dan siap untuk diteliti.

Kadang-kadang menyempitkan masalah sebagaimana dijelaskan diatas, diartikan sebagai usaha menyempitkan lokasi/tempat dilakukannya penelitian. Namu hal ini keliru, sebab menyempitkan lokasi penelitian belum berarti menyempitkanruang lingkup permasalahan, dan masalah yang sempit ruang lingkupnya tidak tergantung pada sempitnya lokasi penelitian. Bila sudah dirumuskan masalah, dianalisis, atau dijabarkan kedalam bagian-bagian yang lebih kecil, maka langkah selanjutnya adalah mempelajari berbagai aspek dari ruang lingkup masalah tersebut.

Rumusan masalah dapat dirumuskan dalam bentuk kalimat Tanya atau pertanyaan yang jelas dan padat tetapi sebelumnya dalam penulisan karya ilmiah perumusan masalah harus dibareingi dengan penyajian latar belakang masalah.

Rumusan masalah member gambaran yang jelas mengenai masalah yang terkandung didalamnya sekaligus member petunjuk tentang mungkinnya mengumpulkan data guna menjawab pertanyaan dalam rumusan tersebut.

Contoh rumusan masalah dalam bentuk kalimat Tanya:

- Bagaimana hubungan antara kecerdasan mahasiswa dengan indeks prestasi kelulusannya?

- Apakah mengajar matematika dengan dibantu computer lebih berhasil disbanding dengan cara tradisional?

Tiga bentuk rumusan masalah masing-masing dikaji dalam dua metode penelitian, yakni: penelitian kuantitatif dan kualitatif. Jenis rumusan masalahnya adalah dalam bentuk rumusan masalah deskriptif, kompaaratif, dan assosiatif.

a. Rumusan masalah deskriptif

- Penelitian kuantitatif

Rumusan masalahnya adalah suatu rumusan masalah yang berkenaan dengan pertanyaan terhadap keberadaan variable, baik hanya pada satu variable atau lebih.

- Penelitian kualitatif

Rumusan masalahnya adalah suatu rumusan masalah yang memandu peneliti untuk mengeksplorasi atau memotret situasi social yang akan diteliti secara menyeluruh, luas dan mendalam.

b. Rumusan masalah komparatif

- Penelitian kuantitatif

Rumusan masalahnya adalah suatu rumusan masalah penelitian yang membandingkan keberadaan satu variable atau lebih pada dua atau lebih sampel yang berbeda atau pada waktu yang berbeda.

- Penelitian kualitatif

Rumusan masalahnya adalah suatu rumusan masalah yang memandu peneliti untuk membandingkan antara konteks social atau domain satu dibandingkan dengan yang lain.

c. Rumusan masalah assosiatif

- Penelitian kuantitatif

Rumusan masalahnya adalah suatu rumusan masalah penelitian yang bersifat menanyakan hubungan antara dua variable atau lebih.

- Penelitian kualitatif

Rumusan masalahnya adalah suatu rumusan masalah yang memandu peneliti untuk mengkonstruksi hubungan antara situasi social atau domain satu dengan yang lainnya.

Singkatnya dalam perencanaan penelitian, setelah memilih masalah atau masalah diidentifikasi, dan dibatasi, maka selanjutnya peneliti melakukan studi pendahuluan sebagai starting poin untuk mencari informasi dan data-data untuk memecahkan masalah. Kemudian selanjutnya merumuskan masalah yang pada umumnya dinyatakan dalam bentuk kalimat Tanya untuk memadu peneliti melanjutkan kegiatan penelitiannya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

untuk komentar berupa materi tambahan, tuliskan nama/almt email anda